< Browse > Home / Publication / Blog article: Sistem Devisa Bebas vs Sistem Devisa Terkendali


Sistem Devisa Bebas vs Sistem Devisa Terkendali

November 29th, 2008 | 6 Comments | Posted in Publication

Beberapa hari lalu, ada pertanyaan mahasiswa saya yang tertarik mengenai apa itu sistem devisa bebas dan terkendali dan apa saja kelebihan dan kekurangannya. Karena bidang keahlian saya di akuntansi dan sistem informasi, saya bukan ahli moneter maupun ekonomi makro maka saya mencoba melakukan “sedikit” riset mengenai hal ini. Dan inilah pemahaman yang saya dapatkan selama saya adakan riset kecil. Jika ada yang salah atau tidak sepaham, tolong berikan pencerahan di area komentar.

Sistem Devisa Bebas
Sistem ini merupakan sistem devisa yang dianut oleh Indonesia (a.k.a Bank Indonesia dan Pemerintah) sebagaimana diatur dalam UU 24/1999 tentang Lalu Lintas Devisa. Sistem devisa bebas adalah suatu sistem lalu lintas devisa dimana siapapun bisa memiliki dan bebas menggunakan devisa. Dengan demikian maka terjadilah fungsi permintaan dan penawaran pasar. Nilai tukar mata uang asing akan dipengaruhi oleh banyaknya permintaan dan penawaran di pasar, meskipun ada juga pengaruh dari suku bungan bank sentral, tingkat inflasi, maupun kebijakan fiskal pemerintah. Tetapi pada dasarnya lebih tergantung dari jumlah permintaan dan penawaran di pasar.

Kelebihan dari sistem devisa bebas ini, menurut pemahaman saya, akan menunjukkan sisi kekuatan fundamental ekonomi nasional secara nyata karena nilai investasi yang masuk serta capital yang dibawa keluar Indonesia akan memiliki nilai ekonomis yang nyata dengan fundamental ekonomi dunia. Kalau diingat krisis moneter di akhir era tahun 90 an (sekitar tahun 96 s/d 99), nilai dolar yang awalnya bernilai 2 ribu – 3 ribuan melonjak sampai 16 ribuan. Ini karena nilai pasar sesungguhnya nilai rupiah adalah diatas 10 ribuan per dolar Amerika. Sehingga dengan sistem devisa bebas ini maka nilai tukar rupiah terhadap dolar diharapkan merupakan nilai sesungguhnya. Selain itu bisa memberikan kepastian bagi investor untuk membuat keputusan investasi di Indonesia, apakah harus membawa capital ke Indonesia atau menempatkan di negara lain.

Kelemahannya adalah, ini masih menurut saya, cadangan devisa Indonesia bisa semakin lama semakin tergerus apabila nilai rupiah terus berfluktuasi diatas nilai psikologis (nilai yang dianggap nyata bagi rupiah dan dolar) karena adanya faktor spekulasi dari para spekulan. Menurut Gubernur BI, Boediono, posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2008 sekitar US$ 50,4 miliar. Angka tersebut melorot jauh dari posisi pada akhir September sekitar 57 miliar dolar AS yang disebabkan intervensi yang dilakukan BI untuk menjaga nilai tukar rupiah. Padahal banyak ekonom menyebutkan nilai minimal cadangan devisa adalah diantara US$ 30-36 miliar. Jadi bisa dibayangkan apabila BI selalu melakukan intervensi ke pasar terus menerus apabila nilai rupiah terus anjlok sampai tahun depan, maka bisa dipastikan akan mengurangi jumlah cadangan devisa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sejak Indonesia menganut sistem devisa bebas maka banyak orang berlomba-lomba menjadi spekulan untuk memperoleh gain antara harga beli dolar saat dia beli dengan harga jual dolar saat ini jika mengalami kenaikan. Jika selisih besar maka nilai rupiah akan semakin terpuruk karena banyak spekulan yang memilih membeli dolar. Meskipun faktor hutang LN yang jatuh tempo juga bisa menjadi faktornya tetapi menurut BI kebanyakan adalah karena faktor spekulan. Oleh karena itu baru-baru ini BI mengeluarkan aturan underlying transactions (aturan dengan meminta pelaku transaksi menyertakan NPWP serta alasan yang jelas penggunaan valas) untuk pembelian valas minimal ekuivalen 100.000 dolar AS.

Sistem Devisa Terkendali
Sistem ini merupakan sistem devisa yang mengendalikan lalu lintas devisa dengan mengenakan batasan waktu bagi dana asing yang baru masuk, sehingga bisa parkir di dalam negeri dalam jangka waktu tertentu, misalnya enam bulan sampai satu tahun. Dengan demikian, pemerintah dan BI memiliki kendali atas dana asing yang bersifat spekulatif, yang tidak jelas tujuan masuknya ke pasar domestik. Selain itu bisa saja pemerintah dan BI melakukan pengendalian dengan cara menetapkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing secara berkala, seperti dulu jaman Soeharto.

Kelebihannya, menurut pemahaman saya, memberikan peluang bagi sektor riil yang menggunakan bahan baku atau peralatan dari luar negeri untuk merencanakan aktivitas usaha dengan baik. Selain itu bisa mencegah eksportir untuk memarkir dananya di luar negeri dan tetap menaham dananya di dalam negeri. Dan yang penting adalah bisa menekan faktor spekulatif para spekulan karena bila selisih nilai tukar antara jual dan beli ditentukan berkisar antara 100-300 poin maka aktivitas spekulatif bisa ditekan/dihindari karena tidak menarik lagi dalam sisi pengambilan gain.

Kelemahannya, menurut saya, adalah sesuai dengan pengalaman krisis moneter 10 tahun lalu, nilai tukar tidak mencerminkan nilai riil dari mata uang rupiah sehingga saat Indonesia terkena krisis moneter maka mata uang kita akan terjun bebas. Kalau sudah begini semua sektor akan terkena imbasnya, mulai sektor keuangan sampai sektor riil dan akan butuh waktu lama untuk sembuh.

Sumber :
* Tempo Interaktif
* Antara
* Suara Pembaharuan
* Beberapa sumber bebas lainnya diinternet

Leave a Reply 11772 views, 1 so far today |




Follow Discussion

6 Responses to “Sistem Devisa Bebas vs Sistem Devisa Terkendali”

  1. CoffeeTeaMe Says:

    Info yang bagus, Thank’s


  2. bohamiksu Says:

    Great blog and useful information :)


  3. spassky Says:

    hallo pak iwan,

    menarik sekali topik anda mengenai devisa bebas vs devisa terkendali. kok saya lebih suka devisa bebas ya. biarkan aja spekulan mainin USDIDR. pemerintah bikin regulasi dan edukasi untuk eksportir dan importir mengenai risk and gain. jadi eksportir dan importir mustinya harus belajar dan mahir untuk surfing on speculant’s wave-nya USDIDR.

    ini menurut analisa dengkul saya pak. gimana pak, what yours?


  4. Iwan Setya Putra Says:

    #spassky : memang saat ini ada 2 pandangan yang berbeda, ada yang pro devisa bebas dan di pihak lain pro devisa terkendali. semua ada kebaikan dan ada juga kelemahan yang saya uraikan diatas (meskipun tidak semuanya tertulis).

    menurut saya tinggal bagaimana tipe masyarakat indonesia dan kemampuan pemerintah dalam menghadang spekulasi perdagangan valas ini. kalau saat ini memang masih bisa dihadang menggunakan beberapa skema dari BI dan stimulus dari pemerintah sehingga sistem devisa bebas masih relevan digunakan.


  5. Gene@ipod touch repair Says:

    “Jika selisih besar maka nilai rupiah akan semakin terpuruk karena banyak spekulan yang memilih membeli dolar.” love it.


  6. Maureen@download mp3 indonesia Says:

    mantab infonya. thanks ya