Apakah anda sudah merasa merdeka ?
Ya.. pertanyaan ini hampir menjadi rutinitas setiap kali memperingati Kemerdekaan RI di setiap tempat, baik di kampung, di kota, maupun di Ibu Kota. Jawabannya pun beragam :
“Saya belum merasa merdeka, karena saya masih merasa menjadi warga yang dimarjinalkan”
“Belum, saya akan merasa merdeka kalau pemerintah memberikan kehidupan yang layak bagi kaum miskin”
“Gimana merasa merdeka kalau mau usaha saja dioprak kesana kemari.. tempat tinggal juga digusur”
“Merdeka dari penjajah mungkin iya.. tapi merdeka dari bangsa sendiri.. ini yang belum. Karena saat ini penjajahan adalah oleh bangsa sendiri”
Itulah beberapa pendapat orang yang saya tangkap dari beberapa siaran TV, radio serta saat hajatan “Malam Renungan 17 Agustus” di kampung saya. Pendapat berbeda ini memang lahir dari latar belakang pendidikan, budaya, pola pikir dan pola hidup yang berbeda.
Maklum! Ya.. sebagai bangsa yang besar, kita harus maklum atas semua pendapat tersebut dan sah-sah saja semua berpendapat di jaman demokrasi ini. Pemerintah memang selalu akan menjadi arah tudingan kenapa mereka tidak bisa merasa merdeka di negeri sendiri. Dan menjadi tugas kita semua untuk memberikan penjelasan yang masuk akal agar mereka bisa merasa merdeka di negeri sendiri. Penjelasan ini tidak dimaksudkan untuk membela pemerintah atau menjadikan kita menjadi “antek” pemerintah. Hanya pikiran kita memang harus jernih melihat semuanya dari segala aspek.
Menjadi warga yang dimarjinalkan, sebenarnya kalau saya pikir tidak mungkin ada “pemerintahan yang baik” yang dengan sengaja ingin memarjinalkan warganya sendiri. Harus diakui banyak kendala yang mengakibatkan beberapa warga secara sistem akhirnya memang dimarjinalkan, salah satunya adalah produk hukum yang tidak mendukung mereka. Perlu kearifan untuk menilai bahwa ini merupakan tugas pemerintah dan wakil rakyat kita di DPR untuk membuat produk hukum yang memihak pada rakyat, bukan memihak pada partainya.
Kehidupan yang layak bagi Kaum Miskin, kalau saya lihat memang kaum miskin akan selalu ada tergantung dari mana kita melihat perspektifnya. Di negara maju seperti Amerika pun banyak kaum miskin yang “keleleran” di jalan dan makan hanya sekali sehari. Menurut pandangan saya, pemerintah saat ini sudah berusaha untuk memberikan jalan bagi kehidupan yang layak bagi kaum miskin, salah satunya memberikan Bantuan/Tunjangan bagi rakyat miskin atau memberikan pelayanan sekolah gratis WAJAR 9 tahun. Hanya memang kultur rakyat kita adalah (menurut pandangan saya) selalu merasa terlena dengan semua bantuan dan kemudahan sehingga menjadikan arah penggunaan bantuan dan kemudahan ini tidak tepat sasaran. Misalnya, bantuan pemerintah untuk rakyat miskin untuk pengembangan usaha dijadikan untuk membeli barang konsumtif. Perlu sistem yang jelas yang harus dilakukan pemerintah agar ada “pengawasan” dan “hukuman” atas penggunaan dana bantuan ini baik bagi yang memberikan maupun yang diberi.
Banyak penggusuran dan oprakan, memang masalah klasik dan ada di semua negara. Salah satu faktor adalah kurang/tidak mau paham atas aturan dan hak milik. Kalau saya lihat kebanyakan adalah warga pendatang masuk ke suatu kota kemudian memilih lokasi kosong dan menjadikan lokasi kosong ini hak mereka tanpa melihat bahwa lokasi itu sudah ada yang punya. Salah satu contoh adalah penghuni di bawah jembatan tol di Jakarta yang baru-baru ini terbakar. Kalau saya lihat di TV mereka tidak mau pindah karena tidak punya ongkos pulang kampung, ada juga yang beralasan pemerintah belum menyediakan rumah layak yang gratis bagi mereka. Saat ditanya apakah mau pulang kampung kalau diberi ongkos pemerintah, jawabannya adalah “terus saya harus usaha apa di kampung pak?”
Belum merdeka dari bangsa sendiri, kalau menurut saya pendapat ini karena mereka belum memiliki kesempatan menjadi pengusaha yang sukses atau duduk di birokrasi. Saya pikir, mereka akan berpendapat lain bila kemudian mereka yang menjadi “bos” dan bukan menjadi “buruh/pekerja”.
Yah… mari kita berpikir jernih. Anggaran negara sangat terbatas. Kalau semuanya harus disediakan pemerintah pasti tidak mungkin. Bangsa kita saat ini sudah menjadi bangsa dengan tangan menengadah keatas daripada tangan yang meraih kesempatan hidup layak secara terhormat. Bangsa kita mungkin sedang mengalami masa ketuaan, semakin tua semakin minta dilayani layaknya bayi. Bukan ini bangsa yang besar. Tidak heran kalau negara-negara tetangga dan negara maju selalu memandang rendah kita karena bangsa kita sendiri yang membuat pandangan mereka seperti itu.
Mari kita songsong kemerdekaan ini dengan dada membusung dan bekerja tanpa lelah untuk bersama-sama dan bermitra antara rakyat (termasuk kaum pekerja), pemerintah dan pengusaha membangun menjadikan Indonesia menjadi Terhormat dan Dikagumi oleh bangsa-bangsa lain.
M.E.R.D.E.K.A ! ! ! !
Popularity: 9%




